sekilas info...
Upacara Megedong – Gedongan adalah upacara yang dilakukan untuk bayi yang masih ada dalam kandungan ibunya...
Megedong Gedongan ini dilakukan pada saat bayi dalam kandungan berumur 6 bulan (210 hari), karena wujud bayi sudah dianggap sempurna/lengkap pada usia itu. Disisi lain untuk memperkuat posisi bayi di dalam kandungan agar tidak terjadi abortus/keguguran, lalu secara jasmani upacara Megedong Gedongan ini dilakukan, agar sang bayi menjadi kuat pada saat dilahirkan dan kelak menjadi orang yang berbudi luhur, berbakti pada orang tua, berguna bagi keluarga, masyarakat dan bangsa, sedangkan untuk ibunya sendiri sebagai doa permohonan keselamatan kepada Hyang Whidi ( Yuhan Yang Maha Esa) agar si ibu sehat, selamat pada saat waktu melakukan persalinan/melahirkan..
Rangkaian upacara Megedong – Gedongan diawali dengan upacara melukat di “kelebutan” yaitu sumber air alami yang dianggap suci. Kemudian dilanjutkan dengan melukat di gria yang dilakukan oleh sulinggih (Ida Pendanda). Sore harinya upacara Megedong – Gedongan dilaksanakan di rumah yang dipuput oleh Pemangku. Pelaksanaan upacara Megedong – Gedongan kurang lebih seperti upacara Otonan, namun ada beberapa sesajen yang berbeda.
Kata Megedong Gedongan berasal dari kata gendongan yang bermakna kandungan. Dalam melaksanakan upacara Megedong Gedongan ini menggunakan filsafat agama Hindu dengan cara perhitungan angka samkhya yaitu dari angka 210 menjadi hitungan 2+1=3 yang artinya Tri Angga yaitu Suksma Sasira, Antakarana, Stula Sasira dihari itu ke tiga unsur telah menyatu menjadi bayi dan saatnya untuk penyucian dan berharap roh yang akan berenkarnasi betul betul roh yang suci.
Sementara untuk ibunya sendiri dengan diadakannya Upacara Megedong Gedongan ini, bertujuan mendapatkan dukungan kejiwaan seperti merasa aman, ketenangan juga merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari pihak keluarga, karena ibu yang hamil belum mempunyai pengalaman dalam hal melahirkan.
nah...ini dia...upacara megedong-gedongan kami...mungkin gk selengkap sebagaimana mestinya...tapi mudah-mudahan...makna dari upacaranya bisa terpenuhi...
semoga semuanya diberi kelancaran...astungkara... :)








































